Seekor belalang telah lama terkurung
dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang
mengurungnya, dengan gembira dia melompat-lompat menikmati kebebasannya.
Di perjalanan dia bertemu dengan seekor belalang lain, namun dia
keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh
darinya.
Dengan penasaran dia
menghampiri belalang lain itu dan bertanya, “Mengapa kau bisa melompat
lebih tinggi dan lebih jauh dariku, padahal kita tidak jauh berbeda dari
usia maupun ukuran tubuh?”
Belalang itu menjawabnya dengan
pertanyaan, “Di manakah kau tinggal selama ini? Semua belalang yang
hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan.” Saat
itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang telah
membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup
di alam bebas.
Kadang-kadang
kita sebagai manusia, tanpa sadar, pernah juga mengalami hal yang sama
dengan belalang tersebut. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa
lalu, kegagalan beruntun, perkataan teman, tradisi, dan kebiasaan bisa
membuat kita terpenjara dalam kotak semu yang mementahkan potensi kita.
Lebih
sering kita mempercayai mentah-mentah apa yang mereka voniskan kepada
kita tanpa berpikir dalam-dalam bahwa apakah hal itu benar adanya atau
benarkah kita selemah itu? Lebih parah lagi, kita acap kali lebih
memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.
Tahukah
Anda bahwa gajah yang sangat kuat bisa diikat hanya dengan seutas tali
yang terikat pada sebilah pancang kecil? Gajah sudah akan merasa dirinya
tidak bisa bebas jika ada “sesuatu” yang mengikat kakinya, padahal
“sesuatu” itu bisa jadi hanya seutas tali kecil…
Pernahkah
Anda bertanya kepada diri Anda sendiri bahwa Anda bisa “melompat lebih
tinggi dan lebih jauh” kalau Anda mau menyingkirkan “penjara” itu?
Tidakkah Anda ingin membebaskan diri agar Anda bisa mencapai sesuatu
yang selama ini Anda anggap di luar batas kemampuan dan pemikiran Anda?
Sebagai
manusia kita berkemampuan untuk berjuang, tidak menyerah begitu saja
kepada apa yang kita alami. Karena itu, teruslah berusaha mencapai
segala aspirasi positif yang ingin Anda capai. Sakit memang, lelah
memang, tapi jika Anda sudah sampai di puncak, semua pengorbanan itu
pasti akan terbayar.
01.34
Pikiran
Selasa, 24 April 2012
01.26
Semua Terjadi Karena Suatu Alasan
Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi , latihan ketangkasan , percobaan mabuk udara.
Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini?
Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa.
Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah.
Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi.
Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini?
Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa.
Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih Christina McAufliffe. Aku kalah.
Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi.
Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku.
Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam?
Aku berpaling pada Ayahku. Katanya “Semua terjadi karena suatu alasan.”
Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challenger.
Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali.
TUHAN, Sebenarnya aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu.
Kenapa bukan aku?
73 detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challenger meledak, dan menewaskan semua penumpang.
Aku teringat kata-kata ayahku,”Semua terjadi karena suatu alasan.”
Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun Aku sangat menginginkannya karena TUHAN memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.
Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.
Ternyata, TUHAN mengabulkan doa kita dengan 3 cara :
1. Apabila TUHAN mengatakan YA; maka kita akan MENDAPATKAN APA YG KITA MINTA,
2. Apabila TUHAN mengatakan TIDAK; maka kita akan mendapatkan yang LEBIH BAIK,
3. Apabila TUHAN mengatakan TUNGGU; maka kita akan mendapatkan yang TERBAIK sesuai dengan kehendak- NYA.
TUHAN tidak pernah terlambat, DIA juga tidak tergesa-gesa.. DIA selalu tepat waktu.
Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam?
Aku berpaling pada Ayahku. Katanya “Semua terjadi karena suatu alasan.”
Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challenger.
Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali.
TUHAN, Sebenarnya aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu.
Kenapa bukan aku?
73 detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challenger meledak, dan menewaskan semua penumpang.
Aku teringat kata-kata ayahku,”Semua terjadi karena suatu alasan.”
Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun Aku sangat menginginkannya karena TUHAN memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup. Aku tidak kalah; aku seorang pemenang.
Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.
Ternyata, TUHAN mengabulkan doa kita dengan 3 cara :
1. Apabila TUHAN mengatakan YA; maka kita akan MENDAPATKAN APA YG KITA MINTA,
2. Apabila TUHAN mengatakan TIDAK; maka kita akan mendapatkan yang LEBIH BAIK,
3. Apabila TUHAN mengatakan TUNGGU; maka kita akan mendapatkan yang TERBAIK sesuai dengan kehendak- NYA.
TUHAN tidak pernah terlambat, DIA juga tidak tergesa-gesa.. DIA selalu tepat waktu.
01.20
Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas.
Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan. Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.
Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.
Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.
Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya.
Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah keluar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.
Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.
Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ.
Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.
Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chicken Soup", saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.
Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.
Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata "terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.
Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?'' Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.
Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.
Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.
Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka
pintu, menahannya sebentar dan menoleh ke belakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberat-kan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari hal-hal kecil-kecil.
Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah sekarang juga
Empati
By: Andy F Noya
Artikel
Andy F Noya berikut kami ambil dari email yang kami terima dari seorang
teman. Semoga pesan sederhana tapi bisa berdampak besar ini menjangkau
lebih banyak orang lagi dengan pemuatan di situs ini.
Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah berkemas.
Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan. Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke hari.
Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.
Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.
Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan sampah bekas makanan.
Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.
Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.
Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini saya juga pernah melakukannya.
Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan pernah keluar negeri. Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.
Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.
Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.
Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka. Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk membuang sampah di situ.
Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.
Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.
Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang tersenyum.
Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku "Chicken Soup", saya kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.
Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang di sekitarnya.
Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan kata "terima kasih" saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang kembalian. Menurut dia, kata "terima kasih" merupakan "magic words" yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.
Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar setoran. "Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?'' Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.
Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.
Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen karet.
Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika membuka
pintu, menahannya sebentar dan menoleh ke belakang untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.
Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak memberat-kan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari hal-hal kecil-kecil.
Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah sekarang juga
01.10
Kisah Pendirian Stanford University
Seorang
wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian
sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston , dan berjalan
dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University. Sesampainya
di sana sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka
adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di
Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge. “Kami ingin
bertemu Pimpinan Harvard”, kata sang pria lembut. “Beliau hari ini
sibuk,” sahut sang Sekretaris cepat. “Kami akan menunggu,” jawab sang
Wanita. Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan
bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi
nyatanya tidak.
Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk
melaporkan kepada sang pemimpinnya. “Mungkin jika Anda menemui mereka
selama beberapa menit, mereka akan pergi,” katanya pada sang Pimpinan
Harvard. Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang
sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia
melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang di luar
kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul. Sang Pemimpin Harvard,
dengan wajah galak menuju pasangan tersebut. Sang wanita berkata
padanya, “Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di
Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun
yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan
peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. Bolehkah?” tanyanya,
dengan mata yang menjeritkan harap. Sang Pemimpin Harvard tidak
tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. “Nyonya,”
katanya dengan kasar, “Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap
orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat
ini sudah akan seperti kuburan.” “Oh, bukan,” Sang wanita menjelaskan
dengan cepat, “Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin
memberikan sebuah gedung untuk Harvard.” Sang Pemimpin Harvard memutar
matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang
mereka kenakan dan berteriak, “Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa
harga sebuah gedung? Kalian perlu memiliki lebih dari 7,5 juta dolar
hanya untuk bangunan fisik Harvard.” Untuk beberapa saat sang wanita
terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari
mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan,
“Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa
tidak kita buat sendiri saja ?” Suaminya mengangguk. Wajah sang
Pemimpin Harvard menampakkan kebingungan. Mr. dan Mrs Leland Standford
bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto,
California, di sana mereka mendirikan sebuah Universitas yang menyandang
nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi
diperdulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford
University , salah satu universitas favorit kelas atas di AS.
Pesan
moral bagi kita, seperti pimpinan Harvard itu, kita memang sering silau
oleh pakaian yang dikenakan seseorang. Padahal,pakaian atau baju hanya
bungkus, tetapi apa yang tersembunyi di balik pakaian, jauh lebih tinggi
nilainya.
01.06
Hidup Satu Jam
Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya..: "Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?!"
Ayahnya memandang kepada anak kecil itu.. dan berkata, "Tidak nak..".
Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya.. dan bertanya lagi..: "Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?!"
Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya.., sambil tersenyum kepada putrinya..
"Oh ayah.., bagaimana kalau 1 bulan.., apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?"
Ayahnya tertawa.., "Mungkin tidak bisa juga nak...".
"OK ayah.., ini pertanyaan terakhir..: apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam satu jam saja ?!?".
Akhirnya ayahnya mengangguk.. , "Kemungkinan besar, bisa nak.. Karena kasih TUHAN dan Kemauan kita lah yang akan memampukan kita untuk hidup benar..!!".
Anak ini tersenyum lega.. "Jika demikian, aku akan menjaga perasaanku.. dan hidup benar dari jam ke jam ayah..
Lebih Mudah Menjalaninya. .."
Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati...
Marilah kita hidup dari waktu ke waktu.., dengan memperhatikan cara kita menjalani hidup ini...
Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun, akan menjadikan kita terbiasa.., dan apa yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi Sifat..
Dan Sifat akan berubah jadi Karakter..,
Dan Karakter akan menjadi Destiny....
Maka Hiduplah 1 jam:
Tanpa Kemarahan,
Tanpa Hati yang Dengki,
Tanpa Pikiran Negatif,
Tanpa Menjelekkan orang,
Tanpa Keserakahan,
Tanpa Pemborosan,
Tanpa Kesombongan,
Tanpa Kebohongan,
Tanpa Kepalsuan...
Tapi Hiduplah 1 jam itu diisi:
dengan Kasih,
dengan Sukacita,
dengan Damai Sejahtera,
dengan KeSabaran,
dengan KeLemahLembutan,
dengan kemurahan hati,
dengan kerendahan hati,
dengan penguasaan diri...
Jalanilah kehidupan yang berkenan kepada TUHAN... dengan menjalaninya dari waktu ke waktu.., dari 1 jam ke jam berikutnya.. ........
Ayahnya memandang kepada anak kecil itu.. dan berkata, "Tidak nak..".
Putri kecil ini kemudian memandang ayahnya.. dan bertanya lagi..: "Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?!"
Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya.., sambil tersenyum kepada putrinya..
"Oh ayah.., bagaimana kalau 1 bulan.., apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?"
Ayahnya tertawa.., "Mungkin tidak bisa juga nak...".
"OK ayah.., ini pertanyaan terakhir..: apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam satu jam saja ?!?".
Akhirnya ayahnya mengangguk.. , "Kemungkinan besar, bisa nak.. Karena kasih TUHAN dan Kemauan kita lah yang akan memampukan kita untuk hidup benar..!!".
Anak ini tersenyum lega.. "Jika demikian, aku akan menjaga perasaanku.. dan hidup benar dari jam ke jam ayah..
Lebih Mudah Menjalaninya. .."
Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati...
Marilah kita hidup dari waktu ke waktu.., dengan memperhatikan cara kita menjalani hidup ini...
Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekalipun, akan menjadikan kita terbiasa.., dan apa yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi Sifat..
Dan Sifat akan berubah jadi Karakter..,
Dan Karakter akan menjadi Destiny....
Maka Hiduplah 1 jam:
Tanpa Kemarahan,
Tanpa Hati yang Dengki,
Tanpa Pikiran Negatif,
Tanpa Menjelekkan orang,
Tanpa Keserakahan,
Tanpa Pemborosan,
Tanpa Kesombongan,
Tanpa Kebohongan,
Tanpa Kepalsuan...
Tapi Hiduplah 1 jam itu diisi:
dengan Kasih,
dengan Sukacita,
dengan Damai Sejahtera,
dengan KeSabaran,
dengan KeLemahLembutan,
dengan kemurahan hati,
dengan kerendahan hati,
dengan penguasaan diri...
Jalanilah kehidupan yang berkenan kepada TUHAN... dengan menjalaninya dari waktu ke waktu.., dari 1 jam ke jam berikutnya.. ........
00.26
Belajar Dari Kentang
Seorang Guru Sekolah Dasar (SD)
mengadakan “permainan”. Guru menyuruh tiap murid membawa sebuah kantong
plastik transparan dan kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi
nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya
tidak ditentukan berapa tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.
Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Selanjutnya guru mengharuskan murid-murid membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.
Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap.
Setelah 1 minggu murid-murid SD tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.
Guru : “Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu ?”
Keluarlah keluhan dari murid-murid SD tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke mana pun mereka pergi.
Guru pun menjelaskan apa arti dari “permainan” yang mereka lakukan.
Guru: “Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemanapun kita pergi. Itu hanya 1 minggu, bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ?”
Alangkah tidak nyamannya dan beratnya beban kita!
Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Selanjutnya guru mengharuskan murid-murid membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.
Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap.
Setelah 1 minggu murid-murid SD tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.
Guru : “Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu ?”
Keluarlah keluhan dari murid-murid SD tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke mana pun mereka pergi.
Guru pun menjelaskan apa arti dari “permainan” yang mereka lakukan.
Guru: “Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemanapun kita pergi. Itu hanya 1 minggu, bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ?”
Alangkah tidak nyamannya dan beratnya beban kita!
21.29
Ketika anda sedang menyalin atau memindahkan beberapa file besar di windows, seringkali beberapa proses penyalinan dapat dirasakan cukup lama, apalagi proses salinan tersebut dipindahkan dari partisi satu ke partisi yang lain. Dari berbagai tools untuk mempercepat proses penyalinan di windows cukuplah banyak. Ada yang berbayar dan ada juga yang gratisan. Dibawah ini saya membagikan 5 Tools Gratis Untuk Mempercepat Kopi File Di Windows, dan tentunya bersifat freeware (tanpa perlu aktivasinya). Diantaranya adalah :
5 Tools Gratis Mempercepat Penyalinan File Di Windows
Minggu, 22 April 2012
Ketika anda sedang menyalin atau memindahkan beberapa file besar di windows, seringkali beberapa proses penyalinan dapat dirasakan cukup lama, apalagi proses salinan tersebut dipindahkan dari partisi satu ke partisi yang lain. Dari berbagai tools untuk mempercepat proses penyalinan di windows cukuplah banyak. Ada yang berbayar dan ada juga yang gratisan. Dibawah ini saya membagikan 5 Tools Gratis Untuk Mempercepat Kopi File Di Windows, dan tentunya bersifat freeware (tanpa perlu aktivasinya). Diantaranya adalah :
TeraCopy
TeraCopy ini merupakan salah satu tools yang paling banyak digunakan. Dengan TeraCopy
ini, kita dapat menyalin dengan cepat sesuai dengan perangkat
(hardware) yang kita miliki. Program ini juga dapat menerapkan sistem
resume. file transfer, dimana dengan sistem ini, kita dapat menghentikan
sejenak proses penyalinan untuk meng-istirahatkan perangkat yang kita
miliki. Selain itu, TeraCopy ini juga menawarkan proses penyalinan yang
sinkron untuk mempercepat penyalinan antara 2 hardisk yang berbeda. Dan
yang lebih menariknya pada program ini, ketika suatu kesalahan file
transfer di temui, maka program ini tidak akan menghentikan secara total
pada proses penyalinannya tersebut, tapi program ini akan melewatkan
kesalahan tersebut dan mencobanya beberapa kali. Tidak seperti pada
windows yang secara defaultnya.
ExtremeCopy
Dengan tampilannya yang sederhana, ExtremeCopy ini mampu untuk meningkatkan kecepatan file transfer dari 20% hingga 120%. Tentunya juga dilengkapi dengan Error Recovery. Dan ExtremeCopy ini, dapat menghitung secara akurat dari sisa waktu pada proses penyalinan data yang dilakukannya.
SuperCopier
Selain dapat melakukan proses resume, ini juga dapat menyimpan file error log
dan juga salinan daftar file, sehingga kita dapat melanjutkan kembali
sesuai dengan waktu yang kita inginkan. Dalam proses penyalinannya pun
dapat diatur sesuai yang kita inginkan.
Copy Handler
Copy Handler ini sangat disesuaikan dan
sepenuhnya terintegrasi khusus untuk windows os. Selain dapat melakukan
pemilihan file, juga dapat mem-filter bedasarkan kriteria file yang akan
kita pindahkan. Dengan proses resume yang ada, kita juga dapat mengubah
settingan untuk proses penyalinan dengan cepat dengan akselerasi yang
sudah diatur sedemikian rupa, sehingga dapat mempercepat hingga 6 – 7
kali dari kecepatan biasanya.
Talent Copy V
Talent Copy V merupakan program kecil
dengan kecepatan transfer 3 kali diatasnya. Ketika proses penyalinan
data dilakukan, program ini akan menyesuaikan dengan kemampuan prosessor
dan RAM yang kita miliki dengan sistem progress yang dapat kita pantau
secara langsung.
Bagi anda yang tertarik, apa salahnya untuk mencoba dari semua program
diatas. Selain gratis, juga menawarkan berbagai fitur yang berbeda-beda.
Langganan:
Postingan (Atom)












